Revaluasi Aset Tetap Bagian 3

BULETIN TEKNIS 11 – REVALUASI ASET TETAP 

• Buletin Teknis 11 perihal Revaluasi Aset Tetap diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan IAI pada tanggal 23 Pebruari 2016 sebagai response atas adanya keragaman pemahaman  atas  perlakuan  akuntansi  revaluasi aset tetap ketika entitas melaksanakan revaluasi aset tetap untuk tujuan pajak maupun akuntansi. 

• Buletin Teknis ini ditujukan untuk menawarkan panduan dalam menerapkan revaluasi aset tetap sehubungan dengan penerbitan peraturan perpajakan berupa PMK 191/2015 serta PMK 233/2015. 

• Entitas sanggup menentukan melaksanakan revaluasi  aset tetap untuk : 
a)  tujuan akuntansi; 
b)  tujuan pajak; atau 
c)  tujuan akuntansi dan pajak 

• Jika entitas melaksanakan revaluasi aset tetap hanya  untuk  tujuan pajak, maka entitas mengungkapkan gosip mengenai selisih lebih revaluasi aset tetap tersebut dalam Catatan atas Laporan Keuangan sesuai PMK 233/2015 
• Jika  entitas  melakukan  revaluasi  aset  tetap  hanya  untuk  tujuan  PAJAK,  maka konsekuensi pajak yang timbul dari revaluasi tersebut diakui dalam LABA RUGI. Pada periode entitas memperoleh persetujuan dari otoritas perpajakan, maka : 

a)  jumlah pajak yang telah dibayar diakui sebagai beban pajak dalam keuntungan rugi; 
b)  timbul perbedaan temporer yang dapat  dikurangkan, alasannya yakni dasar pengenaan pajak atas aset tetap menjadi lebih tinggi dari  jumlah tercatat secara akuntansi. Perbedaan temporer tersebut menimbulkan aset pajak tangguhan alasannya yakni manfaat ekonomik akan mengalir ke entitas dalam bentuk pengurangan keuntungan kena pajak di masa depan ketika jumlah  tercatat aset tersebut dipulihkan. Kenaikan dasar  pengenaan pajak  setelah revaluasi  mengakibatkan  jumlah  penyusutan  secara  pajak  menjadi  lebih  besar dibandingkan penyusutan secara akuntansi di masa depan. Pajak tangguhan yang berasal dari perbedaan temporer ini diakui dalam keuntungan rugi. 

• Jika entitas melaksanakan revaluasi aset tetap  untuk tujuan AKUNTANSI dan PAJAK, mak pajak  kini  dan  tangguhan  diakui  di  penghasilan  komprehensif  lain  atau  laba  rugi, bergantung pada kejadian yang menimbulkan timbulnya konsekuensi pajak sekarang dan tangguhan tersebut. Secara akuntansi, kenaikan nilai tercatat aset akhir revaluasi diakui di PENGHASILAN   KOMPREHENSIF  LAIN.  Pada  periode  entitas  memperoleh persetujuan dari otoritas perpajakan, maka : 

a)  jumlah pajak yang telah dibayar diakui di  PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN dan terakumulasi dalam EKUITAS pada bagian  SURPLUS REVALUASI;
b)  jumlah tercatat suatu aset tetap yang direvaluasi secara pajak dan akuntansi akan menjadi sama dengan dasar pengenaan pajaknya, sehingga tidak terdapat perbedaan temporer atas aset yang direvaluasi tersebut. 
REVALUASI ASET TETAP MENURUT SAK ETAP 

• Pada adegan  Pengukuran Setelah Pengakuan  Awal,  SAK ETAP menjelaskan bahwa 

Entitas  harus  mengukur  seluruh  aset  tetap  setelah  pengakuan  awal  pada BIAYA PEROLEHAN dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian penurunan nilai. Entitas  harus  mengakui biaya  pemeliharaan  dan  reparasi sehari-hari dari aset tetap sebagai beban dalam laporan keuntungan rugi pada periode terjadinya (SAK-ETAP Bab 15.14) 

• Penilaian kembali atau revaluasi aset tetap pada umumnya TIDAK DIPERKENANKAN alasannya yakni SAK ETAP menganut penilaian aset menurut BIAYA PEROLEHAN atau harga pertukaran.  PENYIMPANGAN  dari  ketentuan  ini  mungkin  dilakukan  berdasarkan KETENTUAN  PEMERINTAH.  Dalam  hal ini  laporan  keuangan  harus  menjelaskan mengenai penyimpangan dari konsep biaya perolehan di dalam penyajian aset tetap serta efek dari penyimpangan tersebut terhadap citra keuangan entitas. Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai tercatat aset tetap diakui dalam EKUITAS dengan nama “Surplus Revaluasi Aset Tetap” (SAK ETAP Bab 15.15) 

(Catatan : sesuai pengaturan dalam Bab 15.15  di atas berarti revaluasi aset tetap diperbolehkan untuk  dilakukan jika menurut ketentuan pemerintah  misalnya dilakukan  sesuai  ketentuan perpajakan.  Jika  dilakukan  revaluasi  maka  di dalam Catatan  atas  Laporan  Keuangan  harus diungkapkan efek dan penyimpangan dari konsep Biaya Perolehan) 
• Surplus revaluasi aset tetap dalam ekuitas  dapat dipindahkan eksklusif ke SALDO LABA pada ketika aset tersebut tidak boleh pengakuannya. Hal ini mencakup pemindahan sekaligus surplus revaluasi pada ketika penghentian atau pelepasan aset tersebut. Namun, sebagian surplus  revaluasi  tersebut  dapat  dipindahkan  sejalan  dengan  penggunaan  aset  oleh entitas.  

Dalam  hal  ini,  surplus  revaluasi yang  dipindahkan  ke  SALDO  LABA adalah sebesar perbedaan antara jumlah penyusutan menurut nilai revaluasian aset dengan jumlah penyusutan  berdasarkan  biaya  perolehan aset tersebut. Pemindahan surplus revaluasi ke saldo keuntungan TIDAK DILAKUKAN melalui LAPORAN LABA RUGI (SAK ETAP Bab 15.16). 
Berikut ini teladan kasus untuk Revaluasi Aset Tetap


Sumber https://hobiakuntansi.blogspot.com/