Pengertian Teori Manajemen Strategi

Teori Manajemen Strategi Efektifitas strategi  akan meningkat apabila  sanggup ditemukan cara mengenai apa yang dilakukan perusahaan dan mengapa. Manajemen strategik merupakan bab yang tak terpisahkan dari ilmu manajemen. Hadir sebagai suatu solusi untuk memberdayakan keseluruhan organisasi (perusahaan) semoga secara komprehensif dan sistematis bisa mewujudkan visi dan misi organisasi tersebut.


Salah satu hal terpenting yang perlu diperhatikan secara terus-menerus oleh para jago taktik ialah segitiga strategi-struktur-kultur. Dalam segitiga ini hubungan ketiga elemen tersebut harus sanggup dikelola sedemikian rupa semoga menjadi seimbang antara satu dengan lainnya. Ketimpangan hubungan tersebut akan bermuara pada tumpulnya stratagi yang dibangun. Strategi mengkaji tentang gerak langkah yang akan diambil perusahaan dalam rangka mencapai target dan tujuan yang diharapkan. Kajian wacana struktur memusatkan perhatian pada perubahan-perubahan yang terjadi pada organisasi beserta banyak sekali unsur lainnya yang terkait. Sedangkan kajian atas kultur memusatkan perhatian pada problem administrasi sumber daya manusia, administrasi perubahan, kultur organisasi, dan banyak sekali unsur lainnya yang terkait.

Pengertian Manajemen Strategi

Menurut Fred R. David (2004) administrasi strategis ialah seni dan pengetahuan untuk merumuskan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsional yang menciptakan organisasi bisa mencapai objektifnya. Sedangkan Bambang Hariadi (2003 : 3) beropini bahwa administrasi strategis ialah suatu proses yang dirancang secara sistematis oleh administrasi untuk merumuskan strategi, menjalankan taktik dan mengevaluasi taktik dalam rangka menyediakan nilai–nilai yang terbaik bagi seluruh pelanggan untuk mewujudkan visi organisasi.  Menurut Pearch dan Robinson (1997) dikatakan bahwa administrasi stratejik ialah kumpulan dan tindakan yang menghasilkan perumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi) rencana-rencana yang dirancang untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi.
Manajemen strategis merupakan proses atau rangkaian kegiatan pengambilan keputusan yang bersifat fundamental dan menyeluruh, disertai penetapan cara melaksanakannya, yang dibentuk oleh pimpinan dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran di dalam suatu organisasi, untuk mencapai tujuan. Dari pengertian administrasi taktik di atas yang cukup luas tersebut menawarkan bahwa administrasi stratejik merupakan suatu sistem yang sebagai satu kesatuan mempunyai banyak sekali komponen yang saling berafiliasi dan saling mempengaruhi, dan bergerak secara serentak (bersama-sama) kearah yang sama pula. Dari pengertian administrasi taktik di atas yang cukup luas tersebut menawarkan bahwa administrasi stratejik merupakan suatu sistem yang sebagai satu kesatuan mempunyai banyak sekali komponen yang saling berafiliasi dan saling mempengaruhi, dan bergerak secara serentak (bersama-sama) kearah yang sama pula.
Komponen pertama ialah perencanaan taktik dengan unsur-unsurnya yang terdiri dari visi, misi, tujuan dan taktik utama organisasi. Sedangkan komponen kedua ialah perencanaan operasional dengan unsure-unsurnya target dan tujuan operasional, pelaksanaan fungsi-fungsi administrasi berupa fungsi pengorganisasian, fungsi pelaksanaan dan fungsi penganggaran, budi situsional, jaringan kerja internal dan eksternal, fungsi kontrol dan penilaian serta umpan balik.

Manajemen taktik diwujudkan dalam bentuk perencanaan berskala besar dalam arti meliputi seluruh komponen dilingkungan sebuah organisasi yang dituangkan dalam bentuk planning strategis (Renstra) yang dijabarkan menjadi perencanaan operasional, yang kemudian dijabarkan pula dalam bentuk acara kerja dan proyek tahunan.Renstra dijabarkan menjadi planning operasional yang antara lain berisi program-program operasional termasuk proyek-proyek, dengan target jangka sedang masing-masing juga sebagai keputusan administrasi puncak. Penetapan renstra dan planning operasi harus melibatkan administrasi puncak alasannya ialah sifatnya sangat mendasar/prinsipil dalam pelaksanaan seluruh misi organisasi, untuk mewujudkan, mempertahankan dan menyebarkan eksistensi jangka sedang termasuk panjangnya. Pengimplementasian taktik dalam program-program termasuk proyek-proyek untuk mencapai sasarannya masing-masing dilakukan melalui fungsi-fungsi administrasi lainnya yang meliputi pengorganisasian, pelaksanaan, penganggaran dan kontrol.

Tugas Manajemen Strategik


Menurut Tunggal Amin Widjaja (2004), administrasi strategis terdiri dari sembilan kiprah kritikal berikut ini :

  1. Memformulasi misi (mission) perusahaan termasuk pernyataan yang luas mengenai maksud (purpose), falsafah (philosophy) dan target (goal).
  2. Mengembangkan suatu profil perusahaan yang merefleksi pada kondisi internal dan kemampuannya.
  3.  Menilai lingkungan eksternal perusahaan, termasuk baik faktor kompetitif maupun faktor yang berafiliasi dengan konteks umum.
  4. Menganalisis opsi perusahaan dengan menandingi sumber daya perusahaan dengan lingkungan eksternalnya.
  5. Mengidentifikasi opsi yang paling diiinginkan dengan menilai setiap opsi dipandang dari sudut misi perusahaan.
  6. Memilih sekumpulan tujuan jangka panjang dan taktik total (grand strategies) yang akan mencapai opsi yang paling diinginkan.
  7. Mengembangkan tujuan tahunan dan taktik jangka pendek yang sesuai dengan kumpulan tujuan jangka panjang yang dipilih dari taktik secara keseluruhan (grand strategies).
  8. Mengimplementasikan pilihan taktik dengan alat alokasi sumber daya yang dianggarkan yaitu memadani tugas–tugas, manusia, struktur, teknologi dan menekankan sistem ganjaran.
  9. Menilai keberhasilan proses strategik sebagai masukan untuk pengambilan keputusan di masa yang akan datang.

Proses Manajemen Strategis

Menurut Wheelen dan Hunger (1996 : 9), proses administrasi strategis meliputi 4 elemen dasar, yaitu : (1) pengamatan lingkungan, (2) perumusan strategi, (3) implementasi strategi, dan (4) penilaian dan pengendalian.
  1. Struktur ialah cara bagaimana perusahaan diorganisasikan
  2. Budaya ialah contoh keyakinan, pengharapan dan nilai-nilai yang diberikan oleh anggota organisasi.
  3. Sumber daya ialah aset yang merupakan materi baku bagi produksi barang dan jasa organisasi.
Analisis internal ialah proses dimana perencana taktik mengkaji pemasaran dan distribusi perusahaan, penelitian dan pengembangan produksi dan operasi, sumberdaya dan karyawan perusahaan serta faktor keuangan dan akuntansi untuk memilih di mana letak kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) perusahaan.
David Hunger. J & Thomas L. Wheelen (1996) dalam bukunya membagi beberapa faktor kekuatan atau kelemahan internal kunci yang nantinya mempengaruhi dasar analisis internal :
  1. Visi, misi, taktik dan kebijakan perusahaan
  2. Budaya Perusahaan  (harapan, nilai-nilai organisasi)
  3. Orientasi perusahaan ketika ini
  4. Struktur organisasi (komunikasi, wewenang dan arus kerja)
  5. Pengalaman
  6. SDM administrasi puncak dan karyawan
  7. Hubungan karyawan
  8. Penelitian dan pengembangan  (aplikasi dan pemanfaatan teknologi)
  9. Posisi finansial  (modal, pembiayaan dan hutang)
  10. Fasilitas pemanufakturan
  11. Saluran distribusi
Jauch dan Glack (dalam Iwan Setiawana, 2002) mendefinisikan analisis eksternal sebagai suatu proses yang dilakukan oleh perencana taktik untuk memantau sektor lingkungan dalam memilih peluang (opportunity) dan bahaya (threat) bagi perusahaan.
  1. Lingkungan mikro atau lingkungan luar erat atau tugas.
  2. Lingkungan makro atau lingkungan luar jauh.
Menurut Wheelen dan Hunger (1996 : 17), dalam tahap implementasi strategi, administrasi mewujudkan taktik dan kebijakan dalam tindakan melalui pengembangan program, anggaran, dan prosedur.

Tahapan Manajemen Strategik 

Pada prinsipnya, administrasi strategik terdiri atas tiga tahapan, yaitu:
meliputi pembuatan misi, pengidentifikasian peluang dan tantangan eksternal organisasi, penentuan kekuatan dan kelemahan internal, pembuatan target jangka panjang, pembuatan pilihan-pilihan strategi, serta pengambilan keputusan taktik yang dipilih untuk diterapkan. Dalam hal penyusunan strategi, Fred R. David membagi proses ke dalam tiga tahapan aktivitas, yaitu: input stage, matching stage, dan decision stage. Termasuk di dalam formulasi taktik ialah pembahasan wacana bisnis gres yang akan dimasuki, bisnis yang dihentikan, alokasi sumber-sumber yang dimiliki, apakah akan melaksanakan perluasan atau diversifikasi usaha, apakah akan memasuki pasar internasional, apakah akan melaksanakan merjer atau membentuk joint-venture, serta bagaimana untuk menghindari pangambilalihan secara paksa (hostile takeover).
meliputi penentuan target tahunan, pengelolaan kebijakan, pemotivasian pegawai, pengalokasian sumber-sumber semoga taktik yang diformulasikan sanggup dilaksanakan. Termasuk di dalamnya ialah pengembangan kultur yang mendukung strategi, penciptaan struktur organisasi yang efektif, pengarahan usaha-usaha pemasaran, penyiapan anggaran, pengembangan dan pemanfaatan sistem informasi, serta mengkaitkan kompensasi pegawai dengan kinerja organisasi.[bandingkan dengan Senge, 1994]. Pada tahap ini, ketrampilan interpersonal sangatlah berperan. Sebagaimana Carl von Clausewitz (1780-1831) dalam bukunya yang diterbitkan kembali On War, taktik bukanlah sekedar kegiatan problem-solving, tetapi lebih dari itu taktik bersifat terbuka (open-ended) dan kreatif untuk mempertajam masa depan dalam model chain of command di mana suatu taktik harus dijalankan setepat mungkin (menghindari bias-bias yang tidak perlu dalam setiap bab struktur organisasi).
meliputi kegiatan mencermati apakah taktik berjalan dengan baik atau tidak. Hal ini dibutuhkan untuk memenuhi prinsip bahwa taktik perusahaan haruslah secara terus-menerus diubahsuaikan dengan perubahan-perubahan yang selalu terjadi di lingkungan eksternal maupun internal. Tiga kegiatan utama pada tahap ini adalah: (a) menganalisa faktor-faktor eksternal dan internal sebagai basis taktik yang sedang berjalan; (b) pengukuran kinerja; (c) pengambilan tindakan perbaikan


Sumber http://www.ekonomiplanner.com