Jual Qunut Subuh Bid’ah?

Qunut Subuh Bid’ah?

Kajian Komprehensif Tentang Hadis-Hadis Qunut Subuh

Oleh: Dr. Burhan Djamaluddin

Penerbit: Hikmah Perdana

Harga: Rp. 20.000,-

Sebagaimana diketahui, di Indonesia khususnya, sering terjadi perselisihan (khilafiyah) diantara kaum muslimin ihwal masalah-masalah keagamaan. Khilafiyah tersebut terjadi dalam dua bidang kandungan anutan Islam, yaitu dalam bidang ibadah dan mu’amalah. Diantara duduk kasus yang diperselisihkan dalam bidang ibadah, ialah duduk kasus shalat, contohnya membaca doa qunut secara rutin pada shalat subuh. Sumber perselisihan kaum muslimin dalam duduk kasus doa qunut secara rutin pada shalat subuh ini terletak pada hadis. Apakah hadis yang dijadikan dalil ihwal doa qunut secara rutin pada shalat subuh tersebut shahih (kuat dan sanggup dijadikan dalil), atau dhaif (lemah dan tidak sanggup dijadikan dalil).

Memang, diakui atau tidak, hadis secara umum termasuk “sumber perselisihan dan perpecahan” dikalangan kaum muslimin. Sebuah hadis, sanggup dinilai shahih oleh sebagian kaum muslimin, dan sebaliknya sanggup dinilai dhaif oleh sebagian yang lain. Atau boleh jadi, sebab banyaknya jumlah hadis dan menyebar di banyak sekali kitab hadis, sebagian kaum muslimin memakai hadis yang berbeda, dengan hadis yang dipakai oleh kaum muslimin lainnya, yang secara kebetulan muatan hadis yang dijadikan dalil oleh masing-masing pihak tersebut saling kontradiksi.

Bahkan sebab fanatik kelompok, fanatik daerah, dan fanatik mazhab, kelompok-kelompok tertentu hingga berani menciptakan hadis palsu (mawdu’), sekedar untuk melegitimasi eksistensi kelompok dan faham yang dianutnya. Kelompok lainnya juga melaksanakan hal yang sama. Akibatnya terjadilah perselisihan yang semakin sulit dicarikan titik temunya. Suatu misal ada dua hadis shahih yang saling pertentangan satu sama lain tersebut, nampaknya, tidak pernah dicarikan solusinya, apakah dengan mendahulukan hadis yang mutawatir dari yang ahad, mendahulukan hadis yang lebih shahih dari yang shahih.
Mendahulukan yang sanadnya atau perawinya orang-orang yang bertempat tinggal di Madinah (tempat sumber hadis) dari sanad atau perawi yang bertempat tinggal jauh dari sumber hadis, contohnya di Iraq, atau solusi-solusi lainnya, menyerupai yang ditawarkan oleh Ibn Hazim.

Sistem pengajaran hadis sesuai dengan aliran/faham yang dianut oleh guru di suatu forum juga sanggup menjadikan kesulitan tersendiri bagi para siswa. Buku ini tidak diniatkan untuk mempertajam perselisihan (khilafiyah) yang terjadi selama ini di kalangan kaum muslimin. Namun, buku ini hanyalah sebuah perjuangan subyektif mungkin untuk meneliti hadis-hadis ihwal membaca doa qunut secara rutin pada shalat subuh. Selanjutnya penulis menerahkan sepenuhnya kepada pembaca untuk menilai apakah hasil penelitian terhadap hadis-hadis ini disepakati kebenarannya atau masih juga diperselisihkan.


Sumber http://toko-buku-albarokah.blogspot.com