Filosofi Embun

Embun merupakan uap air yang terbentuk dari proses perubahan gas menjadi zat cair. Menyambut pagi atau setelah hujan, embun biasanya akan muncul di sela-sela beling jendela atau di balik daun.

Lepas dari itu, lewat filosofi embun, kita bisa berguru banyak hal. Embun tidak pernah menentukan di daun mana butiran-butirannya akan terbentuk. Bentuknya yang sederhana, bening, dan bisa berubah bentuk mengikuti lingkungan tempatnya berpijak menciptakan daun-daun betah menjadi daerah persinggahannya. Melihat embun yang begitu sederhana, ternyata sebagai insan kita bisa berguru banyak.

Melalui butiran kecilnya, kita bisa berguru untuk mendapatkan dengan sukacita dimanapun Allah menempatkan kita. Bentuknya yang sederhana, mengajarkan kita untuk hidup sederhana, tanpa memakai ‘topeng-topeng’ kebohongan. Karena Allah menyukai hati yang sederhana namun penuh kasih.

Melalui embun yang menunjukkan kesejukan, kita juga bisa berguru untuk menempatkan diri dengan baik. Sebagai manusia, harusnya kita bisa memberi ‘kesejukan’ di hati orang-orang yang berada di sekitar kita dan tidak menciptakan ‘kegerahan’ dalam hati mereka.

Kita tidak perlu menjadi orang lain untuk memikat hati Tuhan. Sebab Allah tahu segalanya, Dia tahu yang sebenarnya. Datanglah kepada-Nya dengan apa adanya dan menjadi diri sendiri, alasannya Dia mencari hati kita. Hati yang mau untuk dibentuk, hati yang bersedia mengasihi-Nya dan hati yang ‘bersih’.


Sumber https://hobiakuntansi.blogspot.com/